*Bukan Selembar Kertas Putih*

Ani teman sebangkuku
Kulihat dia letakkan selembar kertas putih diatas meja…
Selembar Kertas Putih Yang Masih kosong…
Kusaksikan dia mencoreti kertas itu sesuka hatinya…
Norma-norma, aturan-aturan serta ketetapan raja kelas yang tidak dapat diganggu gugat  apalagi dibantah, telah ia tuliskan pada kertas itu...
Dia tidak menyadari, bahwa dalam kertas itu tidak sepenuhnya putih...
Ada garis hitam berbaris dari atas sampai ujung bawah kertas.

Padahal dibalik garis-garis itu, kulihat bersembunyi suatu sifat dasar Kemanusiaan..
Ada keberanian..
Ada kepedulian..
Ada kasih sayang..
Dan ada pula dasar kebijaksanaan..

Tetapi garis-garis itu tak terlihat oleh Ani,
Oleh nurani, oleh karena arogansi atas kuasanya sebagai pemegang penah…
Seharusnya Ani menggunakan garis itu untuk mengarahkan torehan penahnya, terihat rapih..
Agar garis dan baris pada kertas tetap utuh, tak terhapus oleh tinta coretan...

Tapi Semua sudah terlambat…
kertas putih milik Ani kini selembar sampah, Penuh dengan coretan tak bermakna tak bernilai apa – apa...
Tak berharga..

Kertas putih, bukan lagi kertas putih sebagaimana sebelumnya..
Wujudnya sudah tak berarti lagi bagi Ani..
Putihnya sudah tertelan coretan..
Barisnya sudah tak nampak, akibat diselimuti lumuran tinta penah tak karuan..

Yang ada kini, kertas berwarna hitam..
Hilang sudah jati dirinya, sebagai kertas putih..

Tiba-tiba Ani berdiri dari tempat duduknya..
Lalu Ani keluar membawa kertas itu, meremuk, kemudian membuangnya ke tempat sampah..
Dan aku  sadar, Aku, Ani dan kawan kelasku yang lain adalah senasib kertas putih itu..

Begitulah guru mendidik kami disekolah..
Memperlakukan kami bagai selembar kertas putih kosong..
Sesuka hati mencoreti kami dengan ancaman-ancaman..
Menghantaui kami dengan Ketakutan-ketakutan agar kami tak banyak bertinkah..

Yang benar bagi guru kami, apa yang tertulis dibuku..
Dan itu harus kami telan mentah-mentah..
Yang baik menurutnya, apabila duduk diam tnapa kata.. 
Habis sudah keberanian pada diri kami..
Dikikis sedikit demi sedikit..
Kini kami takut memanjat pohon..
Kini kami takut menyentuh tanaman karena takut kotor..
Hilang sudah rasa kepercayaan diri ini..
Digerogoti setiap hari..
Kami sekecil mungil kini tak berani menunjukkan kemampuan, karena takut kena marah..
Kami menjadi penakut, penurut dan menjadi sosok tak berani berbuat..

 

Irfan Samsir

Makassar  12 September 2018