Home Blog

ADD : Ada Apa Dengan Dunia ?

0
ADD
(Ada Apa Dengan Dunia)

Kulari Kepantai, Tak Ada Pantai
Kulari Kehitan, Tak Ada Hutan
Kulari Kelaut, Tak Ada Ikan
Kulari Kegunung, Tak Ada Gunung
Kulari Kedesa, Tak Ada Sawa
Kulari Kekota, Tak Ada Tanah

Yang Ada Hanyalah Reklamasi
Yang Ada Hanyalah Penebangan Liar
Yang Ada Hanyalah Perusakan Laut
Yang Ada Hanyalah Pertambangan
Yang Ada Hanyalah Pabrik-Pabrik
Yang Ada Hanyalah Perampasan Tanah

 

Hancurkan Saja Semua
Biar Ramai
Ambil Saja Semua
Sampai Habis Tak Bersisa

 

Sedih, Aku Benci
Aku Ingin Semua Kembali

 

Tapi Bukan Budi Yang Salah
Budi Tak Tahu Apa-Apa
Dan Budi Bukan Siapa-Siapa

 

Budi Bukan Presiden
Bukan Kepalah Daerah
Bukan Juga Penegak Hukum
Bukan Pula Anggota DPR

 

Budi Hanyalah Masyarakat Biasa Yang Butuh Keadilan

Irfan Samsir
Makassar 1 Oktober 2018


 

SAJAK BUKAN-BUKAN

0

SAJAK BUKAN-BUKAN

Kita Butuh Realitas
Didepan mata
Bukan…
Dunia Maya
Kita Butuh Cangkul
Ditangan Kanan
Bukan….
Cambuk Penyiksa
Kita Butuh Buku
Ditangan Kiri
Bukan…
Barang Elektronik Canggih
Kita Butuh Tanah
Dibawah Kaki
Bukan…
Aspal Hitam dan Lantai Semen
Kita Butuh Langit
Diatas Kepala
Bukan…
Atap Gedung
Kita Butuh Makanan
Didalam Mulut
Bukan…
Kotoran Cepat Saji dari Pabrik
Kita Butuh Pakaian
Di Badan
Bukan…
Gaya Hidup.
Aco Pugalu
Makassar 20 Februari 2017

HIMNE-KONSPIRASI

0

*HIMNE-KONSPIRASI*

Bagai pohon yang rindang, tumbuhlah bersemilah..
Bagai lentera terang dalam kegelapan..

 

Beri Kami kesejukan..
Arti kehidupan..
Dalam keringnya jiwa..

 

Darimu kami belajar bersabar..
Darimu kami bersabar belajar..

 

Mengabdi pada kebenaran..
Menggali pengetahuan..

 

Tumbuhlah
Zaman, menantimu
                                                                                                                              Cipta
(IRFAN & ACO)

IBUKU dan BUKUKU

0
*IBUKU dan BUKUKU*
Buku itu seperti ibuku..
Ia tak pernah mengharapkan apa-apa..
Balasan ataupun pamrih…
Ia akan selalu memberikan gagasan seperti halnya ibu yang selalu menasihati anaknya..
Ibu yang baik tak pernah menuntut anaknya mengikuti, sebagaimana buku yang tak pernah menuntut dibaca..
Dia akan siap mengajarkan apa yang dia ketahui, begitupun dengan buku yang siap mengajarkan ilmunya..
Semua akan ia lakukan , bahkan sampai tetes darah penghabisan. Begitupun dengan buku, bahkan sampai lembaran terakhir habis terbaca..
Dari mulutnya terlontar pesan-pesan cinta, yang kadangkala seorang anak salah memahaminya..
Dari lembaran-lembarannya terdapat pesan-pesan bijaksana, yang kadang kalah seorang pembaca salah memahaminya..
Andai buku itu memang seperti ibu, maka tentu sudah lama kita menjadi batu, karena berdosa tak membacanya..
Irfan Samsir

Makassar 18 Mei 2018

Bukan Selembar Kertas Putih

0

*Bukan Selembar Kertas Putih*

Ani teman sebangkuku
Kulihat dia letakkan selembar kertas putih diatas meja…
Selembar Kertas Putih Yang Masih kosong…
Kusaksikan dia mencoreti kertas itu sesuka hatinya…
Norma-norma, aturan-aturan serta ketetapan raja kelas yang tidak dapat diganggu gugat  apalagi dibantah, telah ia tuliskan pada kertas itu...
Dia tidak menyadari, bahwa dalam kertas itu tidak sepenuhnya putih...
Ada garis hitam berbaris dari atas sampai ujung bawah kertas.

Padahal dibalik garis-garis itu, kulihat bersembunyi suatu sifat dasar Kemanusiaan..
Ada keberanian..
Ada kepedulian..
Ada kasih sayang..
Dan ada pula dasar kebijaksanaan..

Tetapi garis-garis itu tak terlihat oleh Ani,
Oleh nurani, oleh karena arogansi atas kuasanya sebagai pemegang penah…
Seharusnya Ani menggunakan garis itu untuk mengarahkan torehan penahnya, terihat rapih..
Agar garis dan baris pada kertas tetap utuh, tak terhapus oleh tinta coretan...

Tapi Semua sudah terlambat…
kertas putih milik Ani kini selembar sampah, Penuh dengan coretan tak bermakna tak bernilai apa – apa...
Tak berharga..

Kertas putih, bukan lagi kertas putih sebagaimana sebelumnya..
Wujudnya sudah tak berarti lagi bagi Ani..
Putihnya sudah tertelan coretan..
Barisnya sudah tak nampak, akibat diselimuti lumuran tinta penah tak karuan..

Yang ada kini, kertas berwarna hitam..
Hilang sudah jati dirinya, sebagai kertas putih..

Tiba-tiba Ani berdiri dari tempat duduknya..
Lalu Ani keluar membawa kertas itu, meremuk, kemudian membuangnya ke tempat sampah..
Dan aku  sadar, Aku, Ani dan kawan kelasku yang lain adalah senasib kertas putih itu..

Begitulah guru mendidik kami disekolah..
Memperlakukan kami bagai selembar kertas putih kosong..
Sesuka hati mencoreti kami dengan ancaman-ancaman..
Menghantaui kami dengan Ketakutan-ketakutan agar kami tak banyak bertinkah..

Yang benar bagi guru kami, apa yang tertulis dibuku..
Dan itu harus kami telan mentah-mentah..
Yang baik menurutnya, apabila duduk diam tnapa kata.. 
Habis sudah keberanian pada diri kami..
Dikikis sedikit demi sedikit..
Kini kami takut memanjat pohon..
Kini kami takut menyentuh tanaman karena takut kotor..
Hilang sudah rasa kepercayaan diri ini..
Digerogoti setiap hari..
Kami sekecil mungil kini tak berani menunjukkan kemampuan, karena takut kena marah..
Kami menjadi penakut, penurut dan menjadi sosok tak berani berbuat..

 

Irfan Samsir

Makassar  12 September 2018